Bagaimana Membangun Personal Branding Untuk Kesuksesan Karir?

| April 16, 2015 | 0 Comments

Branding adalah tentang reputasi.

Bagi perusahaan, reputasi inilah yang bisa memberikan nilai lebih tinggi daripada aset fisik seperti gedung, pabrik, dan inventaris lainnya. Cara perusahaan mengenalkan diri ke pasar, melakukan komunikasi publik, melayani dan membina hubungan dengan pelanggan, dan sebagainya, lama-kelamaan akan membentuk sebuah citra yang melekat dengan perusahaan itu.

Itulah brand.

strategi personal branding

Dalam kehidupan sehari-hari, brand dapat menentukan keputusan pembelian. Saat kita ingin membeli cokelat di supermarket, misalnya. Apa iya kita cobain satu per satu merek cokelat yang ada di sana lalu menilai secara objektif, mana yang rasanya paling enak, baru setelah itu kita beli? Kan enggak gitu juga. Kebanyakan dari kita pasti menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan reputasi dari merek-merek tersebut.

Ujung-ujungnya, yang kita pilih adalah brand.

Nah, seperti halnya produk, masing-masing orang pun sebenarnya membutuhkan brand, sesuatu yang spesial dan melekat dengan dirinya, yang membuatnya mudah dikenal dan akan dinilai tinggi oleh orang lain. Kita sering menyebutnya dengan self branding atau personal branding.

Personal branding adalah tentang menemukan unique selling proposition (USP) atau sebuah faktor X yang membuat Anda istimewa, lalu dikemas menjadi brand milik Anda sendiri. Personal branding tidak hanya sekedar nama, identitas, dan citra Anda, tetapi juga segala hal yang Anda lakukan untuk membuat perbedaan dari orang lain, kemudian memasarkannya.

Lalu, bagaimana cara membangun personal branding?

Berdasarkan buku “You Are A Brand” yang ditulis oleh Catherine Kaputa, secara singkat, ada 4 hal penting dalam strategi personal branding:

1. Buat perbedaan.

Meniru persis sesuatu yang ada hanya akan membuat Anda menjadi pemain nomor dua. Maka, carilah apa yang membuat diri Anda berbeda dari orang kebanyakan. Dengan berbeda, Anda akan lebih mudah ‘terlihat’ dan akhirnya lebih mudah dipilih juga.

Saat menjadi pembicara di berbagai forum atau seminar, Raditya Dika sering membuka rahasia bagaimana ia menulis buku-bukunya selama ini. “Kalau gue berusaha bikin tulisan yang paling lucu, selalu ada orang yang lebih lucu, kalau gue berusaha bikin tulisan yang paling bagus, selalu ada yang bisa nulis lebih bagus, makanya gue bikin aja yang beda, yang jarang orang tulis.”

raditya dika

Pantas saja karyanya selalu meledak dan selalu dinanti-nanti penggemar setianya.

2. Fokus

Batasi diri hanya pada suatu bidang yang Anda bisa kuasai. Jangan jadi orang yang serba bisa, itu akan membuat orang lain bingung dan akhirnya tidak memperhitungkan Anda. Lagipula, Anda pasti tidak bisa benar-benar jago kalau semua bidang Anda ambil. Cari satu atau dua bidang, sesuaikan dengan passion dan kemampuan Anda, lalu rajinlah mengasah diri hingga Anda menjadi expert, master, pakar di bidang tersebut.

Anda bahkan bisa mengunci suatu kata atau istilah yang bisa dilekatkan dengan diri Anda dan diakui oleh publik jika Anda menguasai dan konsisten di dalam bidang Anda.

Seperti Ippho Santosa yang terkenal dengan istilah otak kanan, Yoris Sebastian dengan kreativitas, Ciputra dengan entrepreneurship, Rene Suhardono dengan passion, Ligwina Hananto dengan personal financial planning, dan sebagainya.

3. Menjadi autentik.

Anda harus tetap menjadi diri sendiri. Udah, itu aja, hehe. Loh, jangan diremehkan ya poin yang satu ini. Setiap manusia itu unik, dengan pemikiran, kelebihan, kekurangan, dan pengalamannya. Boleh saja mengamati, mempelajari, dan meniru nilai plus dari orang atau tokoh yang Anda kagumi, tetapi pada akhirnya harus dimodifikasi dan disesuaikan dengan jati diri Anda.

Tantowi Yahya mengaku bahwa gaya panggungnya adalah hasil belajar dari presenter-presenter yang lebih senior. Ia belajar senyuman dari Koes Hendratmo, ia belajar artikulasi dari Krisbiantoro, ia belajar menggunakan bahasa inggris dari Bob Tutupoli, dan sebagainya. Tetapi, ia mampu mengombinasikan dengan gaya yang ia miliki. Jadilah Tantowi yang autentik.

tantowi yahya

Ia pun pernah dibayar 1 miliar sebagai presenter selama 1 minggu dan menjadi MC termahal di Indonesia. Wow ya!

4. Gaungkan ke pasar.

Brand Anda harus menjadi obrolan dan perhatian orang-orang. Seseorang dikatakan memiliki personal brand yang kuat ketika gagasan, sudut pandang, karya, sikap, dan bahkan penampilannya dapat mencuri perhatian khalayak. Kalau apa yang Anda lakukan tidak menimbulkan gaung di benak orang lain, mungkin Anda hanya akan dianggap komoditas oleh mereka, seperti manusia kebanyakan.

Untuk bisa dikenal, selain langkah 1, 2, dan 3 di atas, Anda juga harus menunjukkannya pada orang lain. Percuma dong sudah berusaha beda, expert di bidang tertentu, dan punya ciri khas, tetapi Anda malu-malu untuk ‘menjual diri’.

Manfaatkan berbagai platform di social media untuk memasarkan diri Anda. Twitter, Facebook, LinkedIn, Instagram, Youtube, atau blog pribadi dapat menjadi ‘kartu nama’ di zaman sekarang. Akan tetapi, tetaplah hidup seimbang, jangan hanya hidup di online, tapi eksislah di dunia offline. Satukan keduanya untuk menjadi senjata ampuh bagi personal brand Anda.

Semoga bermanfaat, ikuti terus artikel-artikel selanjutnya yang lebih lengkap, lebih rinci, dan lebih teknis tentang personal branding ini ya.

Remember, You Are A Brand.

Tags:

Category: Karir & Produktivitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *