Intrapreneur – Solusi Bagi Karyawan Yang Belum Siap Jadi Entrepreneur

| June 26, 2015 | 0 Comments

Kewirausahaan memang bisa mengatasi masalah pengangguran, tetapi juga ancaman terhadap employment. Tidak sedikit perusahaan yang kehilangan pegawai terbaiknya karena memutuskan untuk membuka bisnis sendiri. Entrepreneur sejati memang sulit hidup di bawah kendali orang lain dengan struktur dan prosedur yang kaku.

intrapreneur

Lalu, bagaimana dengan nasib perusahaan yang ditinggalkan pegawainya itu? Apalagi makin ke sini, semangat kewirausahaan semakin digembor-gemborkan. Padahal, ironinya, semangat entrepreneurship dalam perusahaan justru harus tetap menyala untuk meningkatkan daya saing perusahaan itu sendiri, ya kan? Jadi, bisakah perusahaan tetap menghidupkan entrepreneurship tanpa perlu kehilangan pegawainya?

Beruntung, ada yang namanya Intrapreneurship.

Intrapreneur sebetulnya kependekan dari ‘intra-corporate entrepreneur’ di mana mereka adalah orang yang bekerja di dalam perusahaan tetapi melakukan aktivitas layaknya pengusaha. Mereka boleh mengemukakan ide, mengeksekusi, dan mewujudkan gagasan bisnisnya itu untuk kemajuan perusahaan tempat ia bekerja. Jika ide itu berhasil, perusahaan akan memberinya insentif sesuai perjanjian di awal.

Sistem ini cukup solutif jika dilihat dari kacamata perusahaan yang tidak ingin pegawai potensialnya keluar hanya karena semangat entrepreneurshipnya yang terlalu tinggi. Sebaliknya, perusahaan justru bisa memanfaatkan dan menyalurkan jiwa entrepreneurship pegawainya itu untuk kebaikan perusahaan.

Dan, sistem ini pun memberi peluang bagus untuk para karyawan yang ingin memulai bisnis tetapi belum berani resign. Kendala yang sering ditemui adalah modal. Mendapatkan modal usaha bukan sesuatu yang mudah. Selain itu, untuk mendapatkan trust dari calon pelanggan pun tentu butuh waktu, yang juga harus ditempuh dengan kesabaran. Nah, dengan sistem intrapreneur, kendala-kendala itu dapat di-cover oleh perusahaan.

Kurang lebih, teknis singkatnya seperti ini: seorang intrapreneur mendapat hak untuk mengemukakan gagasan bisnis, entah itu pengembangan dari produk lama perusahaan, ataupun ide produk baru. Setelah itu perusahaan memberikan modal dan sarana untuk merealisasikannya. Jika intrapreneur tadi sukses dalam memasarkan produknya, maka keuntungan dibagi dua, untuk dia sebagai pelaksana, dan untuk perusahaan sebagai pemodal.

Selain modal dan sarana, intrapreneur juga dapat memanfaatkan nama besar perusahaannya untuk mendapatkan trust dan bargaining position yang kuat – sesuatu yang tentu tidak akan didapatkannya secara instan jika memulai usaha sendiri dari nol.

Jadi, bagi Anda yang:

  • sedang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan
  • merasa punya jiwa entrepreneurship yang kuat
  • dan otaknya terbukti (dan diakui) encer untuk urusan bikin ide & strategi bisnis
  • tetapi terkendala modal & alasan lainnya
  • dan kebetulan perusahaan Anda welcome dengan sistem intrapreneur ini

Cobalah nego, ajukan diri untuk menjadi intrapreneur di sana. Jika ditolak mentah-mentah, apa yang harus dilakukan? Kalau memang karena kompetensi Anda yang dinilai masih kurang, ya tentu PR nya adalah menempa diri agar lebih ahli. Tetapi, kalau masalahnya adalah aturan perusahaan yang tidak memungkinkan untuk menggunakan sistem tersebut, ya pilihan ada di tangan Anda: tetap nyaman di dalamnya, atau berani mencari perusahaan lain, hehe.

Juga bagi Anda yang kebetulan pemilik perusahaan yang:

  • mulai mengendus gelagat-gelagat mau resign dari karyawan potensial Anda
  • yang Anda tahu ia memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat
  • dan otaknya memang encer kalau sudah bicara ide & strategi bisnis
  • dan kebetulan ia kelihatan seperti butuh modal usaha

Cobalah diajak diskusi, barang kali ada peluang yang bisa digarap bersama, dengan tetap memberinya kesempatan ber-entrepreneurship tanpa harus keluar dari perusahaan. Namun jika Anda menutup rapat-rapat kesempatan itu, mungkin Anda harus siap-siap cari pegawai baru, hehe.

Keputusan di tangan Anda.

*Inspirasi dari buku “Seratus Kiat” karangan Bondan Winarno*

Tags:

Category: Karir & Produktivitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *