Bagaimana Menjadi Pembicara Yang Berpengaruh, Selalu Diingat, dan Dibayar Mahal?

| May 3, 2015 | 2 Comments

Pernahkah Anda bertanya: mengapa ada MC yang laris dan ada yang tidak? Mengapa ada ustadz yang bisa merangkul banyak jamaah dan ada yang tidak? Mengapa ada trainer yang bisa jualan training mahal dan tetap banyak yang mau beli padahal di sisi lain ada trainer yang memasang harga murah tapi tetap empot-empotan cari peserta?

Atau, Anda mungkin pernah berpikir: mengapa ada guru SMA yang sampai sekarang masih kita ingat bagaimana beliau mencuri perhatian siswanya saat mengajar, tetapi ada juga guru yang mungkin sama sekali tidak membekas dan sudah lama terlupa karena memang tidak ada kesan yang ditinggalkannya? Dan seterusnya.

Pertanyaan itu tidak akan ada habisnya. Silakan saja diteruskan sendiri kalau kuat. Hehe.

pembicara yang berpengaruh

Intinya adalah, apapun profesinya, selalu ada yang berhasil dalam membawakan dirinya di depan publik terutama dalam membangun komunikasi secara efektif dan menarik. Dan sayangnya, selalu saja ada yang gagal dan akhirnya dilupakan.

Apa yang membedakan mereka yang sukses dengan mereka yang gagal?

Kemampuan retorikanya.

Atau dalam bahasa yang lebih sering dipakai: kemampuan public speaking-nya.

Yap, keahlian dalam berbicara di depan publik selalu ada hubungannya dengan tingkat keberhasilan seseorang, apapun profesi dan karir yang sedang dijalaninya. Coba perhatikan orang-orang sekitar yang Anda anggap sukses, bagaimana skill bicaranya? Tentu sebagian besar punya kemampuan public speaking yang ‘menyihir’, ya kan?

Ada banyak sekali cara yang digunakan orang-orang sukses itu dalam menyihir audience-nya. Sebagian pembicara menyihir lewat pemikiran-pemikiran mereka yang kritis, otentik, unik dan jarang dipikirkan orang lain, sebagian yang lain memukau audience-nya dengan gaya tubuhnya yang begitu luwes dan energik, ada juga yang jago menggoyang dan mencampuradukkan emosi pendengarnya dengan pemilihan kata yang menyentuh, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah keahlian dalam menyihir audience itu bisa dipelajari? Bisakah dilatih terus-menerus sampai benar-benar expert? Dan yang terpenting, bisakah saya, anda, dan kita semua melakukannya suatu saat nanti walaupun saat ini masih suka gugup, gemetar, kringetan, dan mungkin pingsan saat mendapat tugas untuk berbicara di depan orang banyak?

Jawabannya meyakinkan: TIDAK BISA!

Kalau tidak tahu ilmunya, hehe.

Jadi, mari belajar ilmunya, satu per satu, perlahan-lahan, tahap demi tahap. Namun jangan lupa juga, selain terus menggali ilmunya, rajin latihan dan praktek juga merupakan hal yang terpenting.

Kali ini, kita mulai dengan yang sederhana dulu ya. Menggali lebih dalam, apa itu public speaking. Kalau Anda berpikir bahwa public speaking hanya sebatas berbicara di depan umum, ya semua orang juga tau, hehe. So, mari mulai saat ini kita melihatnya sebagai sebuah SENI. Yap, public speaking ternyata adalah:

1. Seni Menguasai Khalayak

Kita harus mengenal terlebih dahulu siapa yang akan menjadi audience kita, pendengar kita, penonton pertunjukan kita. Siapa mereka, berapa rata-rata umur mereka, latar belakang pendidikan, apa yang mereka sukai, apa yang sekarang-sekarang ini sering mereka obrolkan di lingkungan mereka, apa yang menjadi ketakutan mereka, keinginan mereka, dan bagaimana kita bisa membantu mereka lewat pesan yang akan kita sampaikan.

Wiiih, harus se-kepo itu?

Ya, gimana mau menguasai kalau kenal saja enggak.

Oiya, public speaking itu sendiri sebenarnya adalah ilmu situasi. Maksudnya, cara kita beraksi di panggung harus menyesuaikan situasi di sekitar kita, situasi audience, situasi venue, dan sebagainya.

Suatu gagasan yang sama, bisa berbeda cara penyampaiannya antara yang dipresentasikan di depan 10 orang dengan yang dikemukanan di depan ribuan orang. Berbeda juga antara saat berbicara di depan khalayak berpendidikan tinggi, dengan khalayak yang jauh dari kata cendikia, dan sebagainya. Bahkan cara bicara di depan hadirin yang format tempat duduknya U-shape bisa berbeda sekali dengan yang formatnya theatre.

Dengan mengenal betul situasinya, kita bisa memiliki modal untuk menyiapkan apa saja yang akan disampaikan, bagaimana penyampaiannya, sedalam apa, seluas apa, dan sebagainya. Kita juga bisa menyusun strategi agar selama kita berbicara, mereka bisa tetap fokus dengan apapun yang kita sampaikan. Dengan begitu, mau audience-nya cuma 2 orang, 10 orang, bahkan sampai ribuan orang, selama kita bisa menguasai mereka, ya tentu pesan itu akan sampai ke hati mereka. Itulah seni yang pertama, Seni Menguasai Khalayak.

2. Seni Bahasa Tubuh

Aspek verbal hanya memainkan peran sebanyak 7% dalam keberhasilan ber-public speaking, sedangkan aspek vokal hanya 38%. Sisanya, yang 55% ternyata adalah aspek VISUAL.

Kita tentu tertarik dengan pembicara yang pandai mengolah tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki sehingga antara kata-kata, vokal, dan bahasa tubuhnya menjadi satu kesatuan utuh yang membuat audience sampai tidak bisa mengalihkan perhatian darinya, sampai ‘kebelet’ ke toilet pun ditahannya! Bahkan dalam waktu yang lama!

Senyuman, ayunan tangan, langkah kaki, tatapan mata, tolehan kepala, dan sebagainya adalah bagian dari pertunjukan. Selain gerak-gerik tubuh yang pas, penampilan juga bisa berbicara. Dari pemilihan pakaian sampai cara menata rambut tidak bisa diabaikan.

Di sinilah seninya, orang-orang itu suka dengan visual, so kuncilah mata mereka, manjakan, dan giring mereka ke manapun anda bergerak. Hehe. Itulah Seni Bahasa Tubuh.

3. Seni Penyertaan Humor

Manusia dilahirkan sebagai umat yang jenaka. Maksudnya, salah satu fitrah manusia adalah selalu menyukai humor, hiburan, dan apa saja yang bisa bikin ketawa dan bahagia pokoknya.

Penyisipan humor yang tepat saat melakukan public speaking dapat menambah ‘rasa’ dalam keseluruhan pesan yang kita sampaikan. Audience pun bisa menjadi segar kembali setelah beberapa saat kita ajak serius. Humor juga media untuk mendekatkan pembicara dengan pendengarnya.

Humor itu banyak macamnya, bahannya pun bisa didapat dari mana saja. Gampang. Tinggal pinter-pinternya kita saja dalam memilih dan menyampaikannya. Rumusnya sih:

Great Humor + Great Delivery + Great Timing = PECAH PARAH (SUKSES, hehe)

Anyway, ada dua timing yang sama sekali tidak boleh disisipi humor. Yang pertama adalah saat harus menyampaikan berita atau pesan yang menyedihkan seperti lelayu, dan yang kedua justru saat sedang melakukan stand up comedy (yaa masa’ komedi harus disisipin humor sih, berarti komedinya sendiri malah ga lucu, hehe)

4. Seni Menyampaikan Gagasan

Cara kita menyampaikan gagasan kadang lebih penting daripada gagasan itu sendiri. Berapa banyak dari kita yang sebetulnya punya pemikiran brilian tapi gagal membuat hadirin memahami apa yang kita maksud? Berapa banyak orang berilmu tinggi yang pidatonya hanya bisa membuat hadirin mengantuk? Namun di sisi lain, pernahkah Anda melihat orang yang sepertinya biasa saja, idenya sederhana, tapi bisa menghipnotis audiencenya untuk setia menunggu kata demi kata yang akan disampaikan pembicaranya, mengangguk-angguk, dan akhirnya bertepuk tangan sambil berdiri dan geleng-geleng karena saking kagumnya?

Yak, orang yang berhasil dalam public speakingnya pasti tahu betul dan rajin melatih otot seninya, ya seni menyampaikan gagasan ini.

Anyway, secara pribadi, saya menyukai pembicara yang bisa membawakan materi yang sebenarnya berat, rumit, dan berpotensi membosankan, dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah dimengerti. Selain itu, saya juga suka dengan speaker yang sebenarnya materi dasarnya simpel sekali, tapi dia bisa mengembangkan, mendramatisir (dalam hal yang positif) dan menemukan celah-celah yang jarang orang pikirkan mengenai materi tersebut.

Applause pokoknya kalau ketemu pembicara kayak gitu, hehe.

5. Seni Penciptaan Situasi

Pembicara adalah seorang pemimpin, ia yang meng-komando-i dan menggiring situasi dalam ruangan itu akan dibawa ke mana. Situasi yang riang kah, berapi-api kah, memilukan kah, dan atau bercampur-campur dari senang – sedih – haru – senang lagi dan sebagainya.

Menciptakan situasi ini (dan juga seni-seni lainnya) memang butuh jam terbang. Itu artinya, memang perlu praktek terus, tidak di depan cermin saja, tapi juga benar-benar di depan manusianya, hehe. Perlu juga untuk sering-sering melihat bagaimana para pembicara yang hebat melakukan aksinya di panggung. Bukan untuk kita tiru semirip mungkin, tetapi kita bisa pelajari bagaimana mereka membangun situasi dari awal mereka naik sampai turun dari panggung.

6. Seni Percakapan Dengan Hadirin

Pembicara yang pro pasti jago mengundang partisipasi dan membangun ‘engagement’ dengan seluruh audience. Komunikasi 2 arah memang diperlukan untuk menjaga fokus, perhatian, dan tentunya hubungan yang dekat dengan hadirin. Caranya bisa dengan melempar pertanyaan, mempersilakan mereka untuk mengemukakan sudut pandangnya, dan interaksi lain yang bisa membuat mereka merasa menjadi bagian dari forum.

Sekalipun ada beberapa jenis public speaking yang biasanya terlihat 1 arah seperti sambutan resmi, khutbah, memimpin doa, atau bahkan seorang publik figur dan reporter berita yang sedang berbicara di televisi dengan audience se-Indonesia, ternyata masih memungkinkan bagi mereka untuk tetap membangun komunikasi 2 arah (secara implisit).

Dengan kekuatan penyampaian yang dahsyat, pesan yang dalam, dan menggugah emosi, bisa saja pendengar dibuat mengangguk-angguk, geleng-geleng, nangis cecengukan, haru biru, atau ketawa terbahak-bahak, bahkan sampai guling-guling di lantai.

Nah menurut saya, itu sendiri sudah termasuk bentuk respon audience, dan bisa dianggap komunikasi 2 arah juga karena sudah terbentuk ‘engagement’ antara pembicara dan pendengar, sekalipun mereka tidak berada di tempat yang sama dan terpisah sampai ribuan kilometer.

Itulah seninya. Hehe

Nah, gimana sobat-sobat pembaca sekalian? Sudah sedikit tercerahkan? Moga-moga bermanfaat dan bisa nambah khasanah baru buat Anda-Anda semua ya. Berikutnya, saya usahakan akan ada posting yang lebih spesifik dan teknis sebagai lanjutan dari posting ini.

Oiya, wawasan ini sebagian besar saya dapatkan dari guru saya, Lucy Laksita. Terimakasih Mama Lucy buat semua ilmu-ilmu ciamiknya, semoga kita makin sukses ya!

Tags: , ,

Category: Karir & Produktivitas

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. muchamad soleh says:

    good…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *